Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Puisi

SEPI

Aku merindukan bulan purnama Disaat semuanya gelap gulita Disaat semua karunia Tuhan dirahasiakan Aku memeluk sepi Lampu terlihat melelahkan Ku tatap dalam dalam Yang ada hanya pesakitan Aku merindukan bulan purnama Entahlah kesunyian tiada tara merangkul Sendi sendi hidupku Ketika segalanya ditakdirkan dengan tanganku Aku bangkit Memaksakan diri Walau kalut ku jamah cahaya Tuhan Di atas pusara hari Aku menanti pengabdian bumi Begitupun Pengabdian bulan purnama yang tersenyum dibalik edarnya. Bandung, 25 Januari 2016

ILMU DAN HARTA

Selagi masih muda Bekerja apa saja tak masalah Asal berkah Asal halalnya dirasa oleh nurani Bujang tetaplah bujang Tanpa meminta umpah serabutan Dahulu kala ada juragan Banyak bicara tak dapat pahala Banyak tertawa juga bisa berakibat fana Rugi di dunia, apalagi kelak Hidup adalah drama Di mana dalang hanya bisa membina Tapi kalau orangnya keras kepala Mana bisa Tuhan memberi Secercah harapanpun akan sirna hidup di jaman sekarang Ilmu bukan panutan Harta adalah tujuan Ilmu hanya tahu syariat saja Sementara hakekat melebur tanpa ada tanya Maka terjadi retakan irama indah ILMU hanya dijadikan alat Di mana teknik merayu menjadi andalan Di jual belikan ibarat barang jualan Padahal ilmu itu berupa cipta karya Yang berasal dari dalam kalbu Tak dilegalkan, apalagi diperdagangkan Sementara dunia kapi ta lis mewabah di negeriku Yang punya materi adalah Tuhan tertinggi Sesembahan utama duniawi Makanya semakin rajin saja hati...

CANTIK

Sedikit saja kita menahu Ada batas irama tentang sebuah drama Kita tak mampu untuk tetap bersahaja Cantik memang dirimu Hadir pada sebuah harapan Kau datang bila mana aku tagih Secercah samudra di ufuk nirwana Hujan kali ini deras Menghabiskan jam di tangga pepohonan Aku semakin mengeja namamu di kulit bumi Me m benamkan doa di mulut na p as mentari Bila cantik itu dirimu Sudah ku ragukan kecantikan purnama yang menyapa malam minggu tadi Di istana hatimu Ku harapkan iman dengan lembut terjaga Tanpa terdengar sedih menjerit Tanpa terpenjara di bumi singasana Agar aku tak asing di bola mata imanmu Bagaimana ikhlas bergelora di taman-taman surrur alam. Tuhan pun maha pengampun Dan ketulusannya melebihi hamparan lautan Yang kau liat sekejap saja. Bandung, 04 Januari 2016

Barang kali Ada Duri

Dalam deretan hidup manusia Ada duri menancap di jiwanya Duri melepuh bagai irisan noda Tidak berbentuk nanah Dalam pemujaan bentuk manusia Rindangnya kebahagiaan tak kekal Begitupula uang sudah menjamur Biang sekali si budak tak memahat janji Itu barangkali ada Barangkali pula hanya seutas tali rapia Menyelip di dahan Melilit ditenggorokan pepohonan Sejak awal ku utarakan prasangka Tentang duri yang tak bernanah itu Namun mengaku saja Kau campakan makna hidup pada benda Seketika kau terjatuh Ke lobang nista Kemana kau manaruh sukarnya duri itu Duri yang kau maksud adalah bahagia Lantas kenapa eranganmu begitu terasa Hingga alampun tak sanggup mendengarnya Di ujung khatulistiwa hari Duri itu masih meratapi nasibnya Membelah lintasan cakrawala Sementara angin mengadu nasib dengan Teka-teki kehidupan sejati Sajak ini ku persembahkan untukmu dinda Disana Jagalah hati dan ragamu Walau kita tak bersatu lagi