Langsung ke konten utama

Postingan

CANTIK

Sedikit saja kita menahu Ada batas irama tentang sebuah drama Kita tak mampu untuk tetap bersahaja Cantik memang dirimu Hadir pada sebuah harapan Kau datang bila mana aku tagih Secercah samudra di ufuk nirwana Hujan kali ini deras Menghabiskan jam di tangga pepohonan Aku semakin mengeja namamu di kulit bumi Me m benamkan doa di mulut na p as mentari Bila cantik itu dirimu Sudah ku ragukan kecantikan purnama yang menyapa malam minggu tadi Di istana hatimu Ku harapkan iman dengan lembut terjaga Tanpa terdengar sedih menjerit Tanpa terpenjara di bumi singasana Agar aku tak asing di bola mata imanmu Bagaimana ikhlas bergelora di taman-taman surrur alam. Tuhan pun maha pengampun Dan ketulusannya melebihi hamparan lautan Yang kau liat sekejap saja. Bandung, 04 Januari 2016

Memahami takdir lewat logika mata Kehidupan

Ini adalah babak pertama saya, mereka semuanya yang sedang berjuang, berjuang menjalankan kehidupan dengan cara berbeda, pola melihat kehidupan yang sedikit banyak tercemar dengan asap kepuasan dan hiburan secara konstan. Dari sisi nasib, mungkin saja ada bahasan yang lebih populer dari sebagian pengamat memahaminya, apa itu yang dipahami? Memahami alam dan masalah kehidupan, seperti apa? Caranya seperti apa? Lalu hasil yang didapatkan bagaimana? Lagi-lagi perbahasannya tentang masalah kehidupan, saya sendiri menilai kehidupan seperti halnya saya mencicipi makanan favorit yang lama tak dijumpai, bahagia tak terkira, begitupun kehidupan selalu ada kebahagiaan di dalam meskipun semu. atau seperti ini, saya umpamakannya saya di undang pada pesta besar oleh seorang artis dunia, entahlah kenapa dia mengundang saya? Aneh kan..ngimpiiii wah saya nulis mulai ngelantur ini. Mungkin faktor jam istirahat kerja, atau memang saya sangat kekurangan materi yang ingin saya sampaikan. ...

PEKEMBANGAN ILMU BIOLOGI, FISIKA, DAN KIMIA MENURUT ILMU PENGETAHUAN BARAT DAN AL-QURAN

1.         PENDAHULUAN Para pemikir Islam abad XX, khususnya setelah Seminar Internasional Pendidikan Islam di Makkah pada tahun 1977, mengklasifikasikan ilmu menjadi dua kategori: 1.Ilmu abadi (perennial knowledge) yang berdasarkan wahyu. Ilahi yang tertera dalam Al-Quran dan AS-Sunah serta segala yang dapat diambil dari keduanya. hanya diberikan kepada manusia. 2.Ilmu yang dicari (acquired knowledge) termasuk sains kealaman dan terapannya yang dapat berkembang kualitatif dan penggandaan, selama tidak bertentangan dengan Syari ‟ ah sebagai sumber nilai. Dalam konsep Islam (Timur), semua yang dipikirkan,. dikehendaki, dirasakan dan diyakini, rnembawa manusia kepada pengetahuan dan secara sadar menyusunnya ke dalam sistem yang disebut Ilmu. Tetapi berbeda dengan konsep Barat, yang mengelompokkan ilmu itu kepada tiga; (1) Sciences (ilmu-ilmu kealaman, murni, biologi, fisika, kimia dam lainnya, (2) Social Sciences (ilmu-ilmu kemasyarakatan ya...